Kado Terindah

Indah…benar-benar indah. Semalam seorang wanita  bijaksana menghampiriku dalam mimpi. Dengan tubuhnya yang tegar didekapnya tubuh mungilku. Mendekat dengan raganya, mendekat dengan jiwanya yang penuh kasih sayang. Tangannya yang lembut membelai rambutku dan dengan suaranya yang khas serta mendayu beliau menimang dan menyihir suara tangisku untuk berhenti. Mimpi saat masa kecilku yang sungguh indah. Tak ingin rasanya aku bangun dari mimpi itu, tetapi apa daya, alarm handphone yang menunjukkan pukul 05.00 membangunkan dan mengaburkan semua bayangan yang tampak nyata itu serta memaksaku untuk kembali ke alam sadarku.

Aku bangun dari tempat tidur, dengan mata yang masih agak sayu aku menuju ke kamar mandi. Sekilas mataku menangkap sosok ibuku yang sedang berada di dapur. Langsung kuarahkan langkahku ke sana dan memeluknya erat sambil berkata dengan girangnya,”Selamat hari ibu!”.

“Lho sekarang tanggal 21 Desember ya? Hari Ibu? Hmmm…berarti hari ini ibu bisa libur dan itu artinya pekerjaan-pekerjaan ibu kau yang mengurusnya. Iya kan…”, kata ibu seraya tertawa kecil.

“Ah ibu, aku kan…”, ucapku dengan nada manja

“Aku apa, Anadita Putri Sekar?”, sahut ibu dengan menyebut nama panjangku.

“Aku kan…”

“Sudahlah, bilang saja kalau kamu nggak mau, nggak usah cari alasan. Sudah sana lekas mandi lalu berangkat sekolah, nanti terlambat kamu.”

“Ah ibu tau saja mauku, aku jadi malu. Tapi pokoknya hari ini tetap spesial untuk ibu.”

“Spesial apanya? Kalau hanya statusnya saja yang spesial itu sama saja seperti hari-hari biasa”, lanjut ibu sambil meneruskan pekerjaannya.

Aku hanya tersipu malu mendengar perkataan itu. Rasanya jarang sekali aku membantu ibu menyelesaikan pekerjaan rumah, seingatku hanya tiap hari Minggu dan hari libur aku membantu beliau. Aku melangkah menuju kamar mandi. Setelah itu aku menyapu halaman depan dan merapikan tempat tidurku. Kemudian, makan pagi dan berangkat sekolah.

Sesampainya di sekolah, pikiranku masih terbayang akan mimpiku semalam dan percakapan kecilku dengan ibu tadi pagi. Tak terasa telah 17 tahun beliau mendidikku hingga menjadi seperti sekarang ini.

“Aku ingin membelikan sesuatu untuk ibu, tapi apa ya?”, lirihku dalam hati,”Aku tahu! Kurasa aku pernah mendengar bahwa ibu menginginkan peniti hias untu mempercantik penampilannya ketika mengenakan jilbab.”

Setelah jam sekolah usai, aku langsung bergegas menuju tempat parkir sepeda motor yang kebetulan berada di samping belakang kelasku. Ajakan teman sebangkuku yang mengajak untuk menemaninya menonton film di bioskop kuacuhkan begitu saja. Dengan motor berwarna hitam-merah itu aku menyusuri jalan raya menuju toko yang berada sekitar 5 km dari sekolah.

Ternyata hari ini nasibku kurang beruntung karena ternyata sesampainya di toko yang aku maksud tersebut, toko itu sedang libur. Akhirnya aku melangkah di toko yang berada tak jauh dari tempat itu. Untunglah ada, tapi…tinggal 2 pilihan dan itu pun aku tak suka model dan harganya yang cukup mahal. Aku bingung harus mencari kemana lagi. Aku putuskan untuk pulang.

Untung saja baru beberapa meter aku mengendarai sepeda motorku kulihat ada toko aksesoris. Aku langsung masuk ke toko kecil itu. Ternyata nasib buruk tak selalu bersamaku. Peniti hias berwarna perak dengan bentuk yang elegan menarik perhatianku dan aku rasa ini sangat cocok apabila dikenakan ibu.

Kuitarkan pandanganku di dalam toko itu. “Wah ada!”, seruku. Kotak kado kecil berwarna merah hati. “Lumayan lah untuk membungkus peniti hias ini”, batinku. Setelah membayar kumasukkan kado itu ke dalam kantong jaketku. Kemudian kunaiki motorku untuk menuju ke rumah.

Dalam perjalanan menuju rumah, aku sempat menjumpai seorang nenek yang sedang dimarah-marahi oleh seorang bapak. Aku turun sebentar karena merasa iba dengan nenek itu, tak ada orang di jalan dekat gang masuk rumahku itu.

“Permisi Pak, ini ada apa ya? Kok ribut-ribut”, tanyaku pelan berusaha agar bapak tersebut tak tersinggung.

“Ini, nenek tua ini hanya membayar setengah dari ongkos ojek saya. Saya bisa rugi kalau begini,” ungkap bapak yang ternyata seorang tukang ojek itu.

“Bukan maksud saya mau membayar setengah tapi memang uang saya kurang. Saya sudah tawari bapak ini untuk mengantarkan sampai ke depan rumah lalu ongkosnya akan saya lunasi, tapi bapak ini yang tidak mau, Nak”, bela si nenek.

“Ya jelas saya tidak mau, lha rumahnya saja jauh. Jangan-jangan nanti saya ditipu lagi. Ayo sudah nek, cepat lunasi ongkos saya”, kata tukang ojek yang tak mau kalah itu.

“Lha tadi kan saya sudah bilang saya sudah tidak ada uang lagi, ya mau bagaimana”, kata si nenek.

“Memang kekurangannya berapa, Pak?”, tanyaku.

“5 ribu”

“Lho kok, kan kurangnya cuma 3 ribu”, tukas si nenek.

“Lha salah siapa ngajak adu mulut segala”, jawab bapak itu.

“Aduuuh…sudah sudah”.

Aku meraba kantong jaketku, untung saja masih ada uang 10 ribu kembalian dari pembelian kado tadi.

“Ini Pak. Kekurangan ongkos nenek ini saya yang bayar. Lunas ya, Pak!”, kataku.

Tanpa sepatah kata pun tukang ojek itu pergi meninggalkan kami berdua setelah memberikan kembalian kepadaku.

“Terima kasih banyak ya, Nak. Kamu telah membela dan menolong saya”, ucap sang nenek.

“Sama-sama, Nek. Tugas kita kan memang membantu sesama”.

Setelah berpamitan dengan nenek tersebut aku langsung tancap gas lagi menuju rumah kesayanganku. Ada rasa bangga dan bahagia yang perlahan-lahan menyusup di hatiku.

Saat itu aku teringat kejadian 2 hari lalu ketika aku sedang dimarahi oleh ayah karena kecerobohanku memecahkan guci kesayangannya, pemberian dari sahabat dekatnya yang ada di Australia. Aku dimarahi habis-habisan, tiba-tiba ibu muncul dari arah dapur dan bertanya apa yang terjadi. Beliau membelaku, meyakinkan ayah dengan kata-kata yang menyihir agar kemarahan ayah mereda. “Tak ada manusia yang tidak pernah melakukan suatu kecerobohan atau kesalahan sekecil apapun itu. Layaknya persahabatan, kesedihan anak karena kemarahan ayahnya akan membekas. Sabar, Yah!”. Saat itu aku merasa seorang pahlawan telah menolongku keluar dari masalah. Setelah itu ayah memelukku dan meminta maaf atas kemarahannya padaku. Aku pun meminta maaf pada ayah dengan rasa menyesal karena telah berbuat ceroboh.

Aku pikir seperti inilah yang dirasakan ibuku waktu membelaku saat itu. Ada kebahagiaan tersendiri yang menghampiri kalbu. Aku ingin ketika sudah dewasa nanti aku seperti ibuku yang bijaksana itu.

Setibanya di rumah kuletakkan tasku di kamar lalu aku mandi. Setelah itu aku raba kantong jaketku untuk mencari hadiah yang tadi aku beli. Akan tetapi, setelah mencari beberapa kali di tiap kantong jaket tak kutemukan kotak merah hati itu. Aku bongkar isi tasku dengan harapan menemukan hadiah itu di dalamnya. Nihil, tak ada, hanya buku-buku pelajaranku.

“Aduh, dimana kado itu?”, ucapku cemas sambil terus mencari

“Jangan jangan kado itu jatuh saat aku mengambil uang dari jaket untuk membayar ongkos ojek nenek tadi. Aaaaaaaa…”, teriakku,”Ah, bagaimana ini.”

Tiba-tiba ibu muncul dengan wajah cemas di depan pintu kamarku dan bertanya,”Ada apa, Na?”.

Langsung kuhampiri ibuku dan kupeluk beliau dengan erat. Sambil berlinang airmata aku ceritakan bahwa kado yang aku persiapkan untuk beliau di hari ibu ini hilang entah kemana.

“Oh, begitu ceritanya. Ibu kira kamu jatuh atau apa. Sudahlah Na, tidak ada hadiah pun ibu masih menyayangimu, Nak!”, ucap ibu dengan penuh kasih sayang sambil membelai rambutku.

Seketika itu tangisku terhenti. Kucium kedua pipi ibuku dengan sangat tulus dari hati dan penuh kasih sayang. Lalu kupeluk beliau dengan erat. Tak ingin rasanya aku melepaskan pelukan ini.

“Inilah hadiah untukmu ibu. Hadiah terindah sepanjang masa hidupku untuk engkau, Bu. Terima kasih atas segalanya. Kau telah mendidikku, membantuku, menyayangiku, membelaku, dan menjadi pahlawan dalam hidupku hingga saat ini”.

Ibuku tersenyum bangga mendengar kata-kataku dan aku pun bahagia karena masih bisa membuatnya tersenyum.

<surat untukmu ibu_lomba Radar Jogja>