Tempe…..siapa sih yang belum kenal sama tempe? sebagai orang Indonesia pastinya tau dong apa tempe itu. (hayoo yang belum tau kenalan duluu)

Tempe yang paling populer di kalangan masyarakat adalah tempe yang dibuat dari kedelai. Tetapi, pada kenyataannya masyarakat juga mengembangkan tempe dengan biji-bijian lain.
Proses pembuatan tempe ada 4 tahap, yaitu perendaman, perebusan, penyuntikan dengan mikroba, dan pemeraman dalam suhu ruangan.
Tahukah kamuuu?? Ternyata pemfermentasian kedelai (yang kalo di Indonesia dinamakan tempe) tidak hanya terdapat di Indonesia tetapi juga beberapa negara Asia seperti Jepang dan Cina. “Lain ladang lain belalang, lain tempat lain pula sebutannya”. Jepang menyebut kedelai fermentasi ini sebagai natto , Cina menyebut dau chi, sedangkan Nepal dan India menyebut sebagai kinema. Tapiii….ada yang beda dari tempe di Indonesia. Kalau di Jepang, Cina, Nepal, dan India fermentasinya menggunakan bakteri Bacillus sp, Indonesia menggunakan jamur Rhizopus sp untuk memfermentasi. Nah, yang masih penasaran dengan proses pembuatan tempe silakan cari di artikel lain ya, disini saya hanya akan memaparkan beberapa kandungan gizi tempe.
Proses fermentasi telah merubah kedelai menjadi bahan makanan yang lebih bergizi. Misalnya saja, protein bebas yang dikandung tempe terbukti lebih banyak daripada kedelai itu sendiri. Selain dikenal sebagai sumber protein, tempe juga dikenal sebagai makanan sumber zat besi karena kandungan zat besi pada tempe ketika difermentasi naik drastis. Jika dibandingkan, zat besi yang terkandung pada kedelai hanya sekitar 24,29% sedangkan pada tempe ada 66,51%. Jumlah vitamin B (kecuali thiamin/B1) dan vitamin E/tokoferol (kecuali alfa-tokoferol) kadarnya juga mengalami kenaikan. Padahal vitamin E dikenal sebagai antioksidan alami, jadi kalau kita makan tempe radikal bebas yang ada dalam tubuh kita dapat dikurangi sehingga tidak mengganggu fungsi tubuh. Kandungan antioksidan dalam tempe ini juga diperkuat dengan adanya Superoxide Dismutase (SOD) yang terbentuk ketika proses fermentasi berlangsung. Tempe juga mengandung glukosa dan isoflavon. Yang menguntunkan lagi adalah pengonsumsi tempe tidak perlu khawatir akan gemuk, karena lemak dalam tempe lebih rendah daripada lemak yang ada di kedelai. Selain itu, kadar asam pitat (faktor antinutrien) juga berkurang sekitar 65% sehingga ketersediaan mineral akan lebih terjamin.
Dengan kandunga zat-zat gizi tadi, ada beberapa manfaat yang kita dapatkan dari mengonsumsi tempe. Pemecahan oligosakarida menjadi glukosa yang terdapat pada tempe akan mencegah efek kembung pada perut jika dimakan dalam jumlh banyak (berbeda dengan kedelai). Selain itu, glukolipid yang ada dapat menghambat proliferasi sel tumor. seperti percobaan yang dilakukan oleh Kiriakidis dengan bahan uji tikus putih.

 

Jadi jangan jadikan tempe sebagai makanan yang diremehkan yaaa. Inga inga ting  😉
Sebenarnya ini masih ada beberapa manfaat yang belulm ditulis, tapi daya tubuh tak kuasa melanjutkan. Jadi sekian dulu cerita tentang tempenya. semoga bermanfaat.

sumber: Astuti M, Meliala A, Dalais FSm Wahkqvist WL. Tempe, a nutritious and healthy food from Indoneia.Asia Pasific J Clin Nutr 2000